The Slim Shady LP, Album yang Mengubah Hidup Eminem (PART III)

The Slim Shady LP, Album yang Mengubah Hidup Eminem (PART III) – Kebrutalannya tak berhenti sampai sini. Di nomor “Guilty Conscience”, Eminem menganggap kencan bisa berujung pemerkosaan.

Kemudian di “If I Had”, Eminem ingin mengubah dunia sebagai tempat berkumpulnya para pecandu alkohol.

Kekuatan album Slim Shady terletak pada dua hal. Selain kepiawaian Eminem memilih tema dan meramu rima, juga karena campur tangan Dr. Dre.

Semenjak mengantarkan Death Row menguasai tangga lagu hip-hop, sinar Dr. Dre, sebagai produser, sempat meredup. Namun, kondisi itu berbalik ketika ia menggarap album Eminem.

Berkat sentuhan Dr. Dre, Slim Shady terdengar begitu gagah—dan sombong. Ketukan G-Funk, alur midtempo, serta warna West Coast yang diteteskan Dr. Dre di tiap lagu membuat album ini menjadi lebih bernyawa.

Ada harga yang harus dibayar oleh album ini. Seiring ketenarannya yang perlahan tumbuh, Eminem menjadi magnet bagi kontroversi.

Ia dituduh melanggengkan penggunaan narkoba, kekerasan terhadap perempuan, hingga punya sikap homophobia.

Baca Juga : The Slim Shady LP, Album yang Mengubah Hidup Eminem (PART I)

Bahkan, Presiden George Bush menyebutnya sebagai “ancaman terbesar anak-anak AS sejak [penyakit] polio.”

Toh, Eminem tak ambil pusing. Ia terus melaju, tak peduli seberapa banyak—dan besar—tekanan yang ditujukan kepada dirinya, sehubungan dengan lagu-lagunya yang nakal, frontal, lucu, dan apa adanya.

Selepas Slim Shady dirilis, Eminem tak seolah tak dapat ditahan. Dalam kurun waktu enam tahun, dari 1999 hingga 2005, ia merekam lima album yang terjual sebanyak kurang lebih 50 juta kopi.

Album The Marshall Mathers LP bahkan laku 10 juta kopi di AS. Pencapaian itu menempatkannya ke dalam jajaran rapper berpengaruh yang pernah dilahirkan kancah hip- hop AS.

Eminem bukanlah rapper gangsta, sebagaimana yang banyak bermunculan di akhir 1980-an.

Baca Juga : Perjalanan Hidup Kobe Bryant, Legenda Basket Dunia

Ia “hanya” pemuda kulit putih dari Detroit yang berupaya menembus semesta hip-hop dengan sikapnya yang cuek, begajulan, dan gemar bikin onar.

Ketika hip-hop saat itu dipakai sebagai medium perjuangan untuk bertahan hidup, Eminem justru sebaliknya.

Ia memakai hip-hop untuk memperlihatkan betapa brengseknya dirinya—dan inilah salah satu faktor yang justru membikin namanya besar hingga sekarang.