Siapa yang menanam apel ini? (PART II)

Siapa yang menanam apel ini? (PART II) – “Jika kita jual ke kota, orang-orang pasti mau membelinya dengan harga tinggi,” timpal Pak Tani sambil membayangkan keuntungan besar yang bakal diperolehnya.

Beberapa hari kemudian, keluarga Petani ini hendak memanen pohon apel mereka. Dengan riang Pak Tani memikul keranjang bambunya pergi ke kebun apel.

Namun ketika mereka tiba di kebun, alangkah terkejutnya.Kebun apel yang penuh harapan itu telah porak poranda.

Ternyata binatang-binatang hutan seperti monyet, burung, babi hutan, tupai dan lain-lain, sedang asyik menikmati buah apel mereka.

Mereka telah menghabiskan hampir semua buah apel yang siap panen. Petani itu pulang dengan tangan hampa dan penuh kekecewaan.

Sejak saat itu Pak Tani tidak mau lagi pergi ke kebun apelnya diatas bukit. Mereka telah beralih memelihara hewan ternak di rumahnya.

Baca Juga : Siapa yang menanam apel ini? (PART I)

Tak terasa dua tahun telah berlalu, suatu pagi anak perempuan mereka mengajak bertamasya ke atas bukit, tempat kebun apel mereka dahulu.

“Tak ada salahnya kita kesana melihat-lihat kebun apel itu. Lagipula tempat disana sangat indah dan sejuk,” pikir Pak Tani.

Kemudian mereka berangkat ke atas bukit itu. Sesampai disana, alangkah terkejutnya Pak Tani melihat kebun apelnya.

“Bbba…bbagaimana mungkin bisa menjadi begini?!” kata Pak Tani tergagap-gagap melihat kebunnya dipenuhi dengan pohon-pohon apel yang sedang berbuah ranum.

“Dibukit ini hanya dihuni babi hutan dan burung-burung. Mungkinkah ada orang yang menanam pohon apel di kebun kita?”, kata Pak Tani penuh keheranan.

Anak perempuan mereka berkata,”Tidak ayah, sewaktu para binatang itu memakan buah apel kita, bukankah mereka membuang biji-biji apel itu berserakan di setiap jengkal tanah kebun kita? Biji-biji itu ternyata tumbuh menjadi pohon-pohon apel ini.”

Baca Juga : Perangkap Tikus

“Ya Tuhan, buahnya lebih lebat daripada pertama kali kita menanamnya.  Ini baru benar-benar panen besar”, ujar Petani itu dengan penuh rasa syukur.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita ini? Pengalaman pak Tani ini memberikan contoh pada kita bahwa janganlah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah dan harus mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan hati.

Kecewa sesaat namun tidak patah semangat dapat merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan. Sampai jumpa.