Kisah Giannis Antetokounmpo, pedagang asongan yang jadi calon ‘pemain basket terbaik dunia’ (PART III)

Kisah Giannis Antetokounmpo, pedagang asongan yang jadi calon ‘pemain basket terbaik dunia’ (PART III) – Namun ada sebuah episode khusus yang melibatkan sebuah “dunk” — ketika seorang pemain basket membawa bola ke dalam keranjang alih-alih melemparnya.

Ini bukan gerakan yang istimewa – pemain NBA biasanya melakukannya beberapa kali di setiap pertandingan – namun dalam peristiwa tersebut Giannis memukau para penonton dan komentator dengan melompat ke atas pemain lawan, Tim Hardaway Jr. – pria setinggi 1,98m – pada Februari tahun lalu.

Gerakannya begitu populer sampai menginspirasi Bucks untuk membuat kaus, tapi produk itu berhenti dijual tak lama kemudian, setelah Giannis protes.

“Itu bukan tindakan yang benar,” ujarnya, menyiratkan bahwa kaus tersebut tidak menghormati Hardway — meskipun ia sendiri telah membagikan foto “Dunk” yang populer itu di akun Instagram pribadinya.

Antetokounmpo telah menginjak tahun ketiga dari kontrak empat tahunnya, yang bernilai US$100 juta, namun kontrak baru ke depannya jelas akan lebih menguntungkan, terutama jika ia memenangkan trofi MVP.

Baca Juga : Kisah Giannis Antetokounmpo, pedagang asongan yang jadi calon ‘pemain basket terbaik dunia’ (PART II)

Sasaran politik kotor

Saat ini, ia mendapat peluang untuk menjadi warga non-Amerika keempat yang memenangkan trofi MVP sejak penghargaan tersebut mulai diberikan pada 1955.

Namun berbeda dari bintang basket lainnya, “Si Gila dari Yunani” ini tidak suka pamer.

Sampai tahun lalu ia masih tinggal di apartemen dua kamar sewaan bersama ibunya, pacarnya, dan adik bungsunya — tapi November lalu, media Amerika melaporkan bahwa ia telah membeli rumah seharga US$1,8 juta — terbilang murah bagi seorang pemain top NBA.

Hidupnya yang sulit selama bertahun-tahun di Yunani, tidak menghalangi Antetokounmpo untuk mewakili negaranya dalam kompetisi internasional bersama Thanasis. Sekarang, mereka punya sepatu masing-masing.

Meski demikian, sebenarnya bisa dimaklumi jika Antetokounmpo tidak mewakili Yunani. Ia baru mendapatkan kewarganegaraan Yunani pada 2013, itu pun prosesnya dipersulit oleh birokrasi dan hampir membuatnya tidak bisa pergi ke AS untuk mengurus kepindahannya ke Milwaukee.

Adapun politikus Nikos Michaloliakos, pemimpin partai ekstrem kanan “Fajar Emas”, mengkritik pemerintah Yunani karena memberi Giannis dan Thanasis kewarganegaraan. Ia menyebut Giannis “simpanse”.

“Giannis lebih Yunani dari mereka yang mengolok-oloknya,” kata Antonis Samaras, perdana menteri Yunani waktu itu, menanggapi ujaran Michaloliakos.

Baca Juga : Lebah Afrikanisasi, sang Lebah Pembunuh Paling Berbahaya

Pada waktu itu, fakta bahwa Giannis dan Thanasis mendapatkan perlakuan khusus dibandingkan anak-anak imigran lain yang kurang beruntung, juga dikritik kelompok pegiat HAM.

“Ketika saya di Yunani, orang sering bilang, ‘Kamu bukan orang Yunani. Kamu orang Nigeria karena kamu hitam.’ Tapi sering juga terjadi yang sebaliknya, ketika orang bilang, ‘Kamu bukan orang Afrika. Kamu Yunani.

“Tapi saya tidak begitu peduli dengan itu. Dalam hati saya, saya tahu siapa saya dan dari mana asal saya. Hanya itu yang penting bagi saya,” kata Antetokounmpo.