Kisah Giannis Antetokounmpo, pedagang asongan yang jadi calon ‘pemain basket terbaik dunia’ (PART I)

Kisah Giannis Antetokounmpo, pedagang asongan yang jadi calon ‘pemain basket terbaik dunia’ (PART I) – Bermain basket di daerah suburban Athena adalah kegiatan selingan yang ditunggu-tunggu Giannis Antetokounmpo.

Keluarganya tidak punya uang. Kadang-kadang ia dan adiknya, Thanasis, harus bergantian mengenakan sepatu olahraga yang sama, saat bermain.

Tapi sekarang, Antetokounmpo punya sepatu basket Nike dengan namanya.

Dialah “the Greek Freak” (Si Gila dari Yunani), anak seorang imigran gelap dari Nigeria yang lahir di Athena, dan kini menjadi pemain terpopuler di NBA.

Hidup susah

Antetokounmpo adalah pemain termahal ketujuh di NBA, liga basket profesional pria Amerika Serikat, dan turnamen paling bergengsi di olahraga basket.

Pemain berusia 24 tahun dengan tinggi 2,11 meter ini dijagokan memenangkan trofi Most Valuable Player (MVP), yang dianggap sebagai penghargaan “terbaik di dunia” bagi pebasket.

Ini sangat berbeda dari hari-hari ketika ia dan adiknya berkeliling di jalanan kota Athena, menjajakan produk-produk bermerk tiruan.

Baca Juga : Ubur-ubur ternyata punya kemampuan super dan tidak seburuk yang kita kira (PART II)

Pekerjaan tersebut merupakan salah satu cara untuk membantu orang tua mereka mencari nafkah.

Status migran Charles dan Veronica Antetokounmpo sangat membatasi kesempatan kerja mereka.

“Kami menjual kacamata dan jam. Lalu kami beralih ke CD, DVD. Saya adalah salesman terbaik,” kata Giannis dalam acara televisi Amerika “60 Minutes”.

“Kalau dagangan kami laku, berarti kami bisa makan.”

Meskipun lahir di Yunani, Antetokounmpo tidak secara legal berhak mendapatkan kewarganegaraan. Sampai usianya 18 tahun, ia tidak memiliki kewarganegaraan, karena ia juga tidak punya dokumen identitas Nigeria.

Demi membantu anak-anak mereka berbaur, Charles memberikan Giannis dan Thanasis nama Yunani dan mendorong mereka untuk menjadikan basket sebagai hobi dan pilihan karier, karena anak-anak mereka tumbuh dengan cepat dan basket sangat populer di Yunani.

Baca Juga : Lumba-lumba, Mamalia yang Cerdas

Giannis mulai bermain basket pada 2007 dan empat tahun kemudian, pencari bakat dari NBA menemukannya di tim divisi dua Yunani, saat berlatih di gelanggang olahraga tanpa pemanas ruangan ataupun air panas untuk mandi usai latihan.

Antetokounmpo, tampak bersama ayah dan saudara-saudaranya dalam foto di atas, direkrut Milwaukee Bucks -biasa disebut Bucks- pada tahun 2013.

Ia ikut serta dalam suatu upacara yang dikenal sebagai “Draft” — semacam reality show di mana tim bergantian memilih pemain baru. Upacara ini disiarkan di televisi di seluruh dunia.

Ia adalah orang asing dan para pakar waktu itu, memprediksi Giannis akan disewakan kembali ke sebuah tim di Yunani untuk menambah pengalaman sebelum bergabung dengan Bucks.