Jalan Panjang Kawhi Leonard Menjadi yang Terbaik (PART II)

Jalan Panjang Kawhi Leonard Menjadi yang Terbaik (PART II) – Dia memang pemain terbaik Toronto Raptors – bahkan salah satu yang terbaik di NBA.

Seorang mesin pencetak angka, raja rebound, dan, kata Ben Cohen dan Andrew Beaton di Wall Street Journal, pemuncak hitung-hitungan statistik hampir di setiap kategori.

Namun, masalahnya bukan itu, melainkan: apakah dia menyesal tidak mengeksekusi tembakan penentuan itu? Ketika tertawa, apakah itu adalah penyamaran untuk menutupi kekecewaan?

Tak ada yang tahu.

“Dia,” ujar Danny Green, rekan satu timnya, “adalah orang yang sulit untuk dipahami.”

Baca Juga : Jalan Panjang Kawhi Leonard Menjadi yang Terbaik (PART I)

Dia, Kawhi Leonard, memang semisterius itu.

Pekerja Keras yang Tidak Suka Lampu Sorot

Nama Kawhi mulai dikenal luas saat masih bermain di Universitas San Diego State dari 2009 hingga tahun 2012.

Dianggap sebagai calon adibintang NBA, ia mampu menunjukkan bahwa ia memang layak: pekerja keras, penuh talenta, dan selalu jadi ingin lebih baik ketimbang sebelumnya.

Alex Jamerson, manager San Diego, mengaku “tak pernah melihat orang yang bekerja lebih keras dari Kawhi di sepanjang hidupnya.

Baca Juga : Sopir Taksi yang Sabar (PART I)

” Sementara itu, Dave Velasquez, asisten pelatih San Diego, mempunyai cerita menarik tentang Kawhi yang akan selalu ia kenang.

Saat Kawhi menjalani tahun-tahun awal sebagai mahasiswa, ia harus mengikuti kelas matematika pada pukul 8 pagi dan kelas menulis pada pukul 10 pagi dari Senin hingga Kamis.